Poetry

Pecahkan

5/03/2016 04:26:00 PM

Deras luberan gelas penuhmu tidak terdengar oleh siapapun tapi aku dan dia. Suara tuangan gelasmu ke gelasnya membuat mata tak berkedip, membandingkannya dengan ruang kosong di gelasku. Dan tumpahannya tidak terlihat oleh kepala manusia-manusia asing. 

Berat hati kumenilik gelasnya yang penuh rona dan nirmala. Membuatmu enggan menganggap gelasku yang dengan jerih payah kuhias agar tak semu. Percuma saja gelas itu berada dalam genggaman.

Tempat sampah menganga meneteskan liurnya akan gelasku, yang selalu terjajar di sebelah gelasmu. Tak terbatasi namun tak terjamu, kecuali setetes yang kau tuangkan oleh pintaku.

Penat melihat gelasku yang perlahan penuh. Bukan atas kemauanmu yang teduh, namun denganku dan yang lain berisikan jenuh yang akhirnya membuat gelasku tak berutuh.

Pecahkan saja gelasnya, agar suaranya memekakkan telingamu. Belingnya terinjak olehmu. Dan fatamorgananya muncul saat terik menyengat kulitmu, keringat memedihkan matamu, dahaga mencekik lehermu. Nasi sudah menjadi bubur baru kau ingin menuangkan ke gelas itu.

--Gelas

(Depok, 3 Mei 2016)
Poetry

Kembali

5/02/2016 12:57:00 AM

Ratusan malam telah kujumpa purnama
namun tak sebersit bintang pun ada
dalam kesunyian asa ini berlabu
sejak terakhir matamu bukan lagi bayang semu.

Langit itu hampa
mengikuti egoku yang tak bersuara
'tuk mengakui penyesalanku seenaknya
melepaskanmu enyah begitu saja.

Izinkan aku terpejam malam ini
terangan ingin bermimpi
melihat eloknya simpul bibir mentari
saat aku bisa memilikimu sekali lagi.

--Bumerang

(Jakarta, 2 Mei 2016)

((Post-AADC 2 here))